4 Teknik Memegang Raket Badminton dan Tips untuk Pemula

Banyak orang mulai main badminton dengan niat sederhana. Entah mau sehat, ingin berkeringat, atau sekadar ikut main bareng teman.

Mungkin kamu juga dulu begitu. Datang ke lapangan, pinjam raket, lalu langsung main. Soal cara memegang raket? Jujur saja, kadang kamu tidak pernah memikirkannya.

Baru setelah beberapa bulan, kamu sadar bahwa tangan cepat pegal, pukulan sering melenceng, dan shuttlecock jarang sekali jatuh sesuai keinginan.

Dari situ pun kamu mulai memperhatikan pemain yang lebih jago. Anehnya, mereka tidak terlihat memukul lebih keras, tapi bolanya selalu “jadi”.

Ternyata, semuanya kembali ke hal yang paling dasar, grip alias teknik memegang raket.

Paling tidak ada 4 teknik memegang raket yang paling umum dipelajari pemula, sekaligus dipakai juga oleh pemain profesional dunia!

1. Forehand Grip: Pegangan yang Terlihat Sepele, Tapi Paling Penting

Forehand grip sering diajarkan pertama kali karena memang menjadi dasar hampir semua pukulan. Tapi justru karena terlihat mudah, banyak pemula melakukannya dengan cara yang keliru.

Teknik forehand grip bukan menggenggam raket sekuat tenaga. Posisi yang benar justru terasa agak longgar, seperti sedang berjabat tangan. Ada ruang kecil di antara jari-jari, dan ibu jari tidak menekan keras.

Kalau menonton ulang pertandingan Viktor Axelsen, kamu akan melihat betapa santainya tangan dia saat bersiap. Baru di detik terakhir, genggaman sedikit menguat.

Itu yang membuat pukulan terasa “meledak” tanpa terlihat memaksa.

Kesalahan paling umum biasanya pegangan terlalu kuat sejak awal. Akibatnya, pergelangan tangan kaku dan tenaga cepat habis.

2. Backhand Grip: Dari Pukulan Lemah Jadi Senjata Bertahan

Backhand sering jadi momok pemula. Kalau bola datang ke sisi backhand, refleks pertama justru malah memutar badan atau memaksa forehand.

Padahal, backhand grip yang benar justru membuat permainan terasa lebih ringan.

Dalam teknik ini, ibu jari punya peran besar. Ia bukan sekadar menempel, sebaliknya malah menjadi penopang utama dorongan. Gerakannya terkesan simpel sih, tapi tetap efektif.

Pemain seperti Anthony Sinisuka Ginting sering memperlihatkan backhand cepat saat bertahan. Tidak terlihat spektakuler, tapi selalu tepat sasaran. Nggak perlu tenaga besar, yang penting efisiensi.

Kalau backhand kamu terasa lemah, sering kali masalahnya bukan di kekuatan lengan, tapi di posisi grip.

3. Panhandle Grip: Bukan Salah, Tapi Sering Disalahgunakan

Panhandle grip sering tidak disadari sudah dipakai pemula sejak awal. Pegangannya mirip seperti memegang gagang panci, terasa natural dan nyaman.

Masalahnya, grip ini sering digunakan di situasi yang kurang tepat.

Di level profesional, panhandle grip biasanya muncul di kondisi tertentu. Contohnya ketika bola sangat dekat dengan badan, permainan cepat di depan net, atau situasi darurat.

Kevin Sanjaya Sukamuljo termasuk pemain yang sering memanfaatkannya saat masuk rally cepat.

Namun, jika digunakan untuk smash dari belakang lapangan, tenaga dan arah pukulan justru jadi terbatas.

Jadi grip ini bukan salah, cuma hanya perlu tahu kapan dipakai dan kapan harus ditinggalkan.

4. Combination Grip: Kebiasaan Kecil yang Membuat Pemain Terlihat “Matang”

Kalau kamu pernah merasa terlambat merespons bola, bisa jadi masalahnya bukan di kaki atau refleks, tapi di grip.

Combination grip bukan teknik khusus yang dipelajari sekali lalu selesai. Ini lebih ke kebiasaan berpindah grip secara alami, hampir tanpa disadari.

Pemain seperti Tai Tzu Ying terlihat sangat santai saat bertanding. Padahal, kalau diperhatikan lebih dekat, jarinya terus bekerja menyesuaikan pegangan sesuai arah bola.

Bagi pemula, ini memang butuh waktu. Namun justru di situlah perbedaan terasa antara pemain yang “sekadar bisa” dan pemain yang nyaman di lapangan.

Latihannya tidak harus berat. Cukup biasakan memegang raket dalam posisi netral saat menunggu bola.

Kenapa Grip Lebih Penting dari yang Kita Kira?

Banyak pemula fokus pada smash, dropshot, atau sepatu mahal. Tapi grip yang salah bisa membuat semua itu sia-sia.

Grip yang benar akan membuat pukulan lebih terkontrol dan mengurangi risiko cedera pergelangan. Permainan pun terasa lebih ringan dan konsisten

Yang paling penting, grip yang baik membuat badminton terasa menyenangkan, bukan melelahkan.

Kalau ingin mengembangkan kemampuan olahraga secara bertahap, bukan sekadar ikut tren, kamu bisa menemukan banyak artikel dan panduan praktis seputar olahraga di creativefitness.xyz. Tempat yang pas untuk belajar sambil tetap menikmati prosesnya.

Post Comment